Sejarah Sebagai Ilmu, Kisah, Peristiwa, dan Seni

iPendidikan.com - Adik-adik tercinta, gimana kabar kalian? Semoga sellau di beri kesehatan selalu. Sebelum mulai pelajaran kali ini, berdo'a dulu menurut kepercayaannya masing-masing ya...
Berdo'a selesai.... Yuk langsung saja... Check it out...

Pada tulisan ini, akan dibahas pada mata pelajaran sejarah tentang sejarah sebagai ilmu, kisah, peristiwa, & seni. Seorang sejarawan harus dapat berlaku seobjektif mungkin serta juga di tuntut untuk memiliki kemampuan memaparkan hasil penelitian semenarik mungkin sehingga orang lain menjadi tertarik untuk mempelajarinya. Oleh sebab itu, sejarah dapat di pahami sebagai ilmu, kisah, peristiwa, & seni. Berikut penjelasannya.


A. Sejarah Sebagai Ilmu (History as Science).

Pada abad ke-18 Herodotus sudah memulai penulisan sejarah, bahkan ia juga sudah mendapatkan gelar The Father of History (Bapak sejarah), tapi pada waktu itu sejarah belum diakui sebagai bidang ilmu.

Seorang ahli sejarah yang sangat berjasa dalam mengembangkan ilmu sejarah dengan menguraikan tentang cara-cara penelitian sejarah adalah Leopold von Ranke (1729-1886).

Leopold vo Ranke adalah seorang serajawan berasal dari jerman yang mendirikan sekolah penulisan sejarah modern. Ia juga menyatakan bahwa sejarah merupakan sebagai ilmu positif. Leopold menyarankan kepada para ahli sejarah untuk menulis apa yang sesungguhnya terjadi secara objektif.

Menurut Leopold, penulisan sejarah harus bersandar pada dokumen-dokumen dari saksi mata yang mengalami peristiwa-peristiwa sejarah tersebut serta dari orang-orang yang sezaman dengan mereka. Buku yang pertama kali ditulis oleh Leopord adalah Sejarah latin & Bangsa-bangsa Teutonik tahun 1494-1514. Tulisan leopold ini mengandung kritisisme terhadap penulisan sejarah (historiografi) pada waktu itu yang dianggap bersifat tradisional. Karya leopold yang mencakup sejarah tentang negara-negara besar Eropa, contohnya Sejarah Reformasi di Jerman, Sejarah dunia dalam Enam volume, Sejarah Sri Paus selama Abad ke-16 & ke-17, serta perang sipil & monarki di Perancis pada Abad ke-16 & ke-17.

Universitas  Berlin, mengangkat Leopold sebagai Guru Besar Luar Biasa dalam bidang sejarah.

Sejarah sebagai ilmu adalah suatu susunan pengetahuan mengenai peristiwa & cerita yang terjadi dalam masyarakat manusia pada masa lalu yang disusun dengan cara sistematis serta metodis berdasarkan asas-asas, prosedur, metode, & teknik ilmiah yang diakui oleh para pakar sejarah.

Ciri-ciri sejarah sebagai ilmu, diantaranya adalah memiliki objek, memilki metode, memiliki teori, & empiris.

Memiliki Objek.

Kata objek berasal dari bahasa Latin, yaitu Objectus yang berarti di hadapan, sasaran, & tujuan. Setiap ilmu harus mempunyai tujuan & objek sasaran yang jelas. Pada ilmu sejarah, objek yang dipelajari adalah manusia & masyarakat, serta menekankan sasarannya kepada manusia dalam sudut panjang waktu & lebih khusus lagi waktu yang sudah berlalu. Misalnya apabila objeknya kerajaan Mataram, yang akan diteliti adalah fakta-fakta & benda-benda peninggalan kerajaan Mataram.

Memiliki Metode.

Metode dalam bahasa Yunani, yaitu methodos yang berarti cara. Dalam ilmu pengetahuan, metode digunakan sebagai pendekatan maupun cara yang dipakai dalam penelitian.
Sejarah mempunyai metode yang berupa metode sejarah. Metode sejarah berusaha mencari hukum-hukum yang mempengaruhi kehidupan manusia serta mencari penyebab perubahan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat.
Seorang ahli sejarah harus sangat berhati-hati dalam mengungkapkan kebenaran sejarah serta harus dapat mempertanggung jawabkannya.

Memiliki Teori.

Teori dalam bahasa Yunani, yaitu theoria yang berarti renungan. Dalam ilmu, teori merupakan pendapat yang dikemukakan untuk menjelaskan mengenai suatu peristiwa. Teori berfungsi sebagai asas & hukum umum yang menjadi dasar suatu ilmu pengetahuan sehingga dalam menjelaskan setiap fenomena mempunyai landasan yang berupa kaidah-kaidah pokok. Sebagai contoh teori konflik oleh Karl Mark.

Empiris.

Empiris berasal dari bahasa Yunani, yaitu empeiria yang berarti pengalaman. Dalam sejarah sangat bergantung pada pengalaman manusia. Pengalaman tersebut yang kemudian akan direkam dalam dokumen & peninggalan-peninggalan lainnya. Sumbe-sumber sejarah tersebut diteliti oleh sejarawan untuk menemukan fakta. Dari fakta-fakta tersebut diinterprestasikan & kemudian dilakukan penulisan sejarah.

Menurut F.X. Paine, sejarah termasuk ilmu karena memiliki seperangkat pengetahuan yang sistematis, memiliki metode yang efektif, memiliki pokok persoalan, serta dapat merumuskan kebenaran.

B. Sejarah Sebagai Kisah (History as Narrative).

Huizinga adalah seorang ahli sejarah berasal dari Belanda. ia menyatakan bahwa sejarah adalah suatu kisah yang telah berlalu. Sejarah sebagaimana dikisahkan mencoba menangkap & memahami sejarah sebagaimana terjadinya.

Sejarah sebagai kisah adalah sejarah yang menyangkut penulisan peristiwa tersebut oleh seseorang sesuai dengan konteks zamannya serta latar belakangnya.

Sejarah sebagai kisah dapat di tulis lagi oleh siapa pun & kapan pun sehingga ada proses berkelanjutan. Peristiwa-peristiwa sejarah, contohnya Proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945 dapat berulang-ulang ditulis kembali oleh seorang sejarawan ataupun seorang yang berminat pada sejarah. Hasil penulisannya dapat berupa karya tulis yang berbentuk cerita pendek, majalah, buku, ataupun yang lainnya.

Sehubungan sejarah sebagai peristiwa & sebagai kisah, Sartono Kartodirdjo membagi pengertian sejarah menjadi dua, yaitu:

  1. Sejarah dalam arti objektif, merupakan peristiwa sejarah yang tidak dapat terulang kembali.
  2. Sejarah dalam arti subjektif, merupakan suatu bangunan yang disusun oleh penulis sebagai suatu uraian kisah. Kisah-kisah tersebut yang merupakan suatu kesatuan dari rangkaian fakta-fakta yang saling berkaitan.


C. Sejarah Sebagai Peristiwa (History as Event).


Pada dasarnya sejarah sebagai peristiwa adalah objektif. Sedangkan sejarah sebagai peristiwa pada hakikatnya adalah kejadian itu sendiri yang sudah tidak akan mungkin terulang kembali sama persis/hanya sekali terjadi. Misalnya peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 tidak akan terjadi lagi, tetapi peristiwa proklamasi tersebut meninggalkan jejak-jejak sejarah yang berupa arsip, data, video, maupun sumber lainnya yang dapat dijadikan dasar untuk merekontruksi peristiwa tersebut. Menurut Moh. Ali, sejarah sebagai peristiwa dengan sebutan sejarah Objektif.

Peristiwa sejarah merupakan aktifitas manusia yang hanya sekali terjadi & hilang dengan berjalannya waktu untuk disusul aktivitas yang lain.

Peristiwa sejarah dalam kehidupan manusia merupakan sebuah peristiwa yang unik, abadi, & penting.

D. Sejarah Sebagai Seni (History as Art).


Sejarah dikatakan sebagai seni karena seorang ahli sejarah membutuhkan intuisi, imajinasi, emosi, serta gaya bahasa dalam menulis sejarah.

  • Intuisi. Seorang ahli sejarah membutuhkan intuisi/ilham, yaitu pemahaman langsung serta insting selama masa penelitian berlangsung.
  • Imajinasi. Seorang ahli sejarah, selain intuisi juga membutuhkan imajinasi dalam menuliskan peristiwa sejarah.
  • Emosi. Seorang ahli sejarah dituntut agar dapat mengolah unsur emosionalnya untuk menumbuhkan rasa empati serta menyatakan perasaan dengan objeknya. Penulisan sejarah dengan penghadiran perasaan juga sangat penting untuk mewariskan nilai-nilai perjuangan. Misalnya menulis sejarah tentang rovolusi.
  • Gaya bahasa. Seorang ahli sejarah juga dituntut untuk menggunakan bahasa yang baik dalam penulisan sejarah. Gaya bahasa yang dimaksud bukan bearti gaya bahasa yang berbunga-bunga & indah.


Dalam proses penelitiannya sumber sejarah bersifat ilmiah, tetapi dalam taraf penulisaannya sifatnya seni. Prof. Charles A. Beard menyatakan bahwa sejarah sebagai disiplin ilmu & juga sebagai seni yang tidak dapat untuk dipisahkan & saling melengkapi.

Sejarah sebagai seni memiliki beberapa kelemahan-kelemahan. Diantaranya adalah:

  • Berkurangnya ketepatan & objektifitas.
  • Penulisan sejarah akan terbatas.

Walaupun sejarah sebagai seni memiliki kelemahan tersebut, tetapi seni juga memberikan sumbangan terhadap penulisan sejarah. Seni dapat memberikan karakteristik yang bisa menggambarkan watak orang dalam biografi kolektif. Sebagai contoh penulisan sejarah tentang bandung lautan api, seorang sejarawan akan terdorong untuk mengungkapkan berbagai kejadian yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Pengungkapan kejadian ini akan lengkap jika terdapat pelukisan tentang watak orang2 yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Nah, disinilah seni dimainkan perannya. Selain itu, seni juga dapat memberikan struktur alur penulisan sejaeah yang sering dilupakan oleh para ahli sejarah.

Cukup sekian pembelajarannya. Semoga dapat memberikan manfaat bagi Adik-adik yang sedang membutuhkan.
Terima kasih & sampai jumpa. Salam, Tim iPendidikan.